*Dzihan Zahriz Zaman, S.Pd., M.Pd.
Dari tahun ke tahun, pendidikan selalu menuai banyak sudut pandang. Perubahan-perubahan penafsiran dan perbedaan pandangan ini bahkan terus berkembang baik secara terminolog maupun filosofi. Ki Hajar Dewantoro sendiri memaknai pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia secara menyeluruh mulai dari aspek lahiriyah hingga batiniyah. Aspek lahiriyah yang dimaksud di sini adalah titik pemberantasan kemiskinan dan kebodohan diri, sementara aspek batiniyah tentu tak lain adalah seputar prinsip membangun otonomi berpikir kedirian dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Artinya, seseorang yang terdidik sudah barang tentu merupakan produk sumber daya manusia yang diharapkan senantiasa mampu menomorsatukan berpikir dan berbijaksana dalam apapun model pelaksanaan hidupnya. Kedalaman makna mengenai pendidikan yang diungkap Ki Hajar Dewantara ini telah tertuang dalam semboyan yang arif kita kenal bersama “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani“, yang artinya di depan memberi contoh yang baik, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan.
Keberhasilan pendidikan tidak lepas dari peran guru di dalamnya. Teknologi boleh berkembang, kurikulum boleh berubah, strategi boleh berganti, tapi selamanya guru harus tetap ada. Ibarat lautan, pengetahuan adalah airnya, ikan-ikan adalah murid, biota-biota laut adalah wali murid, ombak serupa tantangan pendidikan, dan rasa asin air laut tak lain adalah guru. Tidak ada air laut yang tidak asin. Itu lah mengapa ilmu pengetahuan dan guru selamanya tidak dapat dipisahkan. Ikan laut tidak bisa hidup di air tawar. Itu lah mengapa pula, di tangan guru yang tidak berpengetahuan, mustahil lahir murid yang berkepribadian militan.
Menjadi guru memang tidak mudah. Tantangan-tantangan yang dihadapi bahkan boleh jadi kurang begitu berbanding lurus dengan niat yang semula dijalani. Tanggungjawab moral, etika luhur, budi pekerti baik, dan lain sebagainya merupakan hal-hal tak kasat mata yang justru lebih gawat pertaruhannya daripada sekadar lezatnya nilai rapor. Guru seringkali tidak bisa tertidur lelap hanya gegara terbayang wajah muridnya yang kehilangan sepatu di sekolah. Guru juga seringkali tidak bisa makan lahap gegara ingat ada muridnya yang wajahnya murung seharian. Guru tidak jarang tertangis di malam hari, sembab matanya bahkan hingga di siang panas, hanya sebab merasa gagal; melihat muridnya makan sambil berdiri. Terlalu banyak hal-hal perasaan yang tidak berhasil diungkap oleh guru, lantaran baginya; setiap gerak muridnya adalah nasihat untuknya.
Guru memang harus selalu belajar, karena dia adalah lentera yang selamanya harus berpijar. Berani menjadi guru berarti harus berani terus belajar. Guru yang memutuskan berhenti belajar, sebaiknya memang berhenti mengajar.
Selamat Hari Guru !
Untuk seluruh guru SD NU Banat-Banin, tanpa terkecuali. Terimakasih sejauh ini telah menghibahkan sebagian hidupnya demi mendidik anak-anak kita semua. Terimakasih sudah mencintai sekolah ini dengan secinta-cintanya. Terimakasih sudah bersedia turut terlibat dalam do’a-do’a yang menjadi munajat kita bersama.*zhn
