GURU BANAT-BANIN BELAJAR PEMBELAJARAN MELALUI SE-LITER LITERASI
Seperti ingin menangis, namun ternyata katalog air mata sudah habis. Hendak melampiaskan sedih pun seolah sudah kehabisan topeng wajah melas. Marah bukanlah pilihan, apalagi kecewa terhadap ketetapan. Duka pandemi seperti menjadi bentuk konkrit dari ketidakberdayaan segala lini. Barangkali, pandemi memang sengaja diciptakan Allah sebagai proses seleksi, mana diantara hambaNya yang benar-benar paham maksud dari kata “iqra”, senyampang yang disampaikan kepada rasul terkasihNya lewat Jibril, yang sekaligus menjadi isyarat asal muasal lahirnya bibit literasi.
SDNU Banat-Banin Lamongan adalah secuil lembaga pendidikan terdampak yang sejauh ini berusaha membentuk kesadaran bahwa pandemi adalah bagian dari ketetapan Allah yang butuh di”husnuzhan”kan kemunculannya sebagai tinakdir. Tidak ada takdir yang buruk, sejauh pikiran manusia dilatih berprasangka baik secara kontinyu. Dari itu, di benak sekolah yang hijau ini, pandemi bukan semata cobaan. Ia bisa bermakna teguran kasih sayang lantaran para penduduk bumi (manusia) telah banyak yang lupa cara menyukuri nikmat pikiran dan perasaan.

Pagi tadi suasana memang sedikit pucat, bahkan hujan menggerimis di sebagian sudut Kota Lamongan. Namun mendadak menjadi pelangi, seketika melihat semangat para guru SDNU berdatangan menghadiri sebuah acara ‘langka’ yang diselenggarakannya sebelum menggelar liburan. Acara yang bertajuk “Inovasi Metode Pembelajaran dan Penguatan Literasi Guru” ini, jauh hari telah digagas sebelumnya oleh Ketua Yayasan, Bpk. KH. M. Faqih Arifin seraya membangunkan kembali hirroh para guru untuk tidak gegabah menyerah dengan keadaan. Ada hal-hal yang memang butuh dipasrahkan secara total, namun ada pula ihwal-ihwal lain yang ternyata memang harus diupayakan terlebih dahulu, meskipun pada akhirnya tetap kembali harus dipasrahkan. Pandemi adalah sebuah skenario yang nyata membentuk sebuah keadaan, sementara pendidikan adalah aktualisasi visi kehidupan yang dalam keadaan bagaimana pun tetap butuh dilaksanakan. Adapun perkara model, metode, sistem terapan, dlsb, merupakan “garapan” yang diserahkan Allah untuk keberfungsian pikiran manusia secara maksimal dan tidak jumud. Sekeranjang garapan tersebut dalam situasi bagaimana pun, bisa diolah, diinovasikan, dikembangkan, dan disesuaikan dengan visi ketercapaiannya.
Bpk. Nur Kholis Huda, M.Pd., seorang praktisi pendidikan tersohor yang gemuk pengetahuannya tentang model pendidikan sengaja dihadirkan sebagai narasumber awal pada momen berharga ini. Alumni 4 besar gupres Provinsi Jawa Timur 2018 ini memaparkan panjang lebar berbagai alternatif metode dan terobosan pembelajaran yang memungkinkan bisa diterapkan. Antara lain, kerjasama dengan pihak aplikasi microsoft Indonesia dengan berbagai fiturnya, inovasi tahapan project based learning yang butuh terus diseriusi, serta praktik pengerjaan LJK yang selanjutnya akan difollow-upkan bersama. Forum memang belum bisa dicapai secara sempurna, karena keterbatasan waktu dan hal-hal lain yang tidak bisa dipaksakan. Namun, sebagai bentuk tindak lanjut dari paparan Pak Kholis, seluruh guru diberikan tugas perencanaan tertulis dan selanjutnya akan dimonitoring secara tatap muka personal oleh beliau sendiri.

Pembekalan ke dua yang tak kalah penting adalah penguatan literasi guru. Materi ini pun telah berhasil disampaikan secara apik oleh ahlinya, Dr. Winarto Eka Wahyudi. Kaprodi Pascasarjana PAI Universitas Islam Lamongan yang progresifitas keilmuannya valid melalui karya-karya buku dan artikelnya. Doktor muda kelahiran 1990 ini berhasil merangsang gelora semangat guru-guru Banat-Banin untuk napak tilas pentingnya menulis. Bahkan untuk menindak lanjuti acara ini, Pak Eka berkenan memberikan pendampingan secara intensif untuk 40 guru secara langsung, yang selanjutnya akan diarahkan menuju proses penerbitan anotologi artikel pendidikan. Sebuah komitmen awal yang bagus dalam menghadapi gejolak pandemi yang tengah mengalami kemiskinan solusi akhir-akhir ini.
Satu tauladan bagus pun ditunjukkan oleh Bapak Ketua Yayasan di hadapan seluruh guru-guru yang terlibat dalam proses belajar luar biasa ini. Beliau, Bpk. KH. M. Faqih Arifin, selain telah menyampaikan arahan dan tujuan penyelenggaraan di awal kegiatan, beliau juga turut mendampingi momen emas ini di lokasi acara hingga pungkas dan berakhir. Yang demikian tentu menjadi spirit tersendiri di benak guru-guru, bahwa tidak ada perubahan energik yang berhasil dicapai tanpa adanya kepedulian, keselarasan ilmu, dan perhatian yang tulus.*zhn
